Fenomena Pengemis

August 31, 2009 by admin  
Filed under Berita Wisata, Blogging

Ditempat yang stategis seperti di depan mall, masjid, gereja, terminal bus, terminal kereta api dan tempat-tempat strategis lainnya, para pengemis, gelandangan dan anak jalanan tanpa mengenal batas usia, terlihat mangkal. Apakah ini merupakan sebuah jati diri bangsa? Apakah keberadaan mereka ini sebuah fenomena atau, benarkah keberadaan mereka merupakan bentuk nyata dari sebuah rekayasa atas kepentingan pihak tertentu? Lalu, apa yang bisa diperbuat agar kondisi yang ada tidak semakin bertambah parah?

Di Jakarta, menurut Kepala Dinas Pembinaan Mental dan Kesejahteraan Sosial (Bintalkesos)  Jakarta Budihardjo, selama Ramadan ini sedikitnya 10.000 gepeng akan menyerbu Ibu Kota. Bayangkan 10.000 orang akan ada disekitar kita,memafaatkan momen ramadhan tahun ini. Bagaimana cara mencegah kedatangan mereka ke Jakarta? Tidak bisa. Buktinya saat ini mereka telah benar-benar ‘membanjiri’ kota jakarta dan sekitarnya.

Hampir 80 persen gepeng berasal dari luar Jakarta. Tercatat sedikitnya 53 titik rawan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Ibu Kota. Satgas penertiban ini akan menyisir 53 titik rawan PMKS di lima wilayah, di antaranya di Cilandak, Tomang, Harmoni, dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Begitu juga daerah Kemang, Jakarta Selatan, yang selalu dipenuhi manusia-manusia gerobak dari luar Ibu Kota, seperti Indramayu dan Tegal. Bila aktivitas mereka tidak segera ditertibkan, saya yakin kita takkan penah mampu mengembalikan jati diri bangsa.

Sekalipun sudah muncul fatwa dari MUI Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang telah mengeluarkan fatwa haram mengemis. Dan fatwa inipun akan disetujui oleh MUI Pusat yang kini diketuai oleh bapak Umar Shihab, namun mereka terus saja berbondong-bondong datang ke Ibukota. Kalau mengemis saja sudah diharamkan apalagi merampok yach. Sudah pasti ini jelas melanggar hukum di negeri ini.

Wahai seluruh warga negeri…termasuk para pengemis, gelandangan, anak jalanan, pengamen, perampok, mari kita bangun masyarakat yang kreatif. Masyarakat yang mampu berbicara banyak ditingkat dunia. Bukan masyarakat bermental pengemis seperti mereka yang selalu menyandarkan hidup kepada belas kasih orang lain, bukan pula masyarakat yang gemar melakukan kekerasan demi mencapai sebuah tujuan seperti para perampok itu. Dengan begitu, kita akan mampu mengembalikan kejayaan bangsa kita, menggali segenap potensi diri yang ada dan mengangkat jati diri bangsa kita dan pada akhirnya kita akan menjadi sebuah bangsa yang bermartabat, yang punya jati diri. Itu adalah tugas kita, generasi muda, penerus cita-cita pahlawan bangsa kita. We are the next generation. Mari kita memulai mengembalikan jati diri bangsa


Ingin Membuat Situs Murah Lihat Disini Atau Untuk Melihat Situs yang pernah kami buat lihat di Jakarta Studio

Comments

6 Responses to “Fenomena Pengemis”
  1. Info Pendidikan Indonesia says:

    Happy blogging pren

  2. selamat berpuasa prend

  3. Cahbagus says:

    I really enjoyed reading your blog I got some very useful information from this article thanks for sharing your info keep update. good work.

  4. ardian eko says:

    saya tadi abis wawancara pengemis di depan kampus saya di bandung. Ternyata mereka itu sebenarnya pengen kerja. Tapi mereka juga menuntut mendapat upah yang cukup. Mereka sudah merasa nyaman dengan kondisi sekarang karena setiap hari mereka bisa mengantongi uang sekitar 20ribuan. Kalau kerja paling 300ribu/bulan. Jadi mending mengemis, untungnya lebih gede..

Kirim Penawaran

Berminat dengan produk/jasa diatas? Kirim penawaran disini. Data akan terkirim langsung di database kami

fotostudio